Sujud Sutrisno, Sang Pengamen Legendaris

“Pernah aku melihat musik di taman ria,Iramanya melayu duhai sedap sekali (2x), Sulingnya dari bambu, gendangnya kulit lembu, Dangdut suara gendang ingin serta berlenggang (2x), Terajana…Terajana…”Judul lagu dangdut ini sekarang dijadikan satu mata acara TV “dut” kita dengan lagu pembukaannya ya Terajana itu tadi. Bait lagu tadi oleh penyanyi dangdut cewek kita yang pakaiannya yang menutup tubuh adalah sepatu lars panjang dan menggunakan selendang bulu, maka refrain Terajana agak disengau-dan celat-kan menjadi Telazhauna…telazhauna.

Lagu karangan Oma Irama sebelum dia jadi beneran seperti Oma-Oma yang crigis” seperti sekarang saya dengar pertama kali di Yogya sekitar 1974 oleh “satria berkendang” dia adalah Sujud Sutrisno di Nyutran-Yogyakarta. Saya masih ingat dia menyanyi dengan suaranya yang serak karena terlalu banyak tarik urat. Kadang matanya merem melek, yang seringkali mengingatkan saya akan penyanyi tuna-netra.

Lebih lengkap disini.

Comments (1)

Anak Kampung Nyutran Jadi Diplomat

“SAYA tidak pernah terbayang menjadi diplomat. Mimpi jadi diplomat pun tidak pernah,” kata Bapak Rudhito Widagdo, Pemangku Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Kinabalu.Anak Kampung Nyutran, Taman Siswa itu yang telah berkhidmat di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sejak 25 tahun lepas itu, merupakan salah seorang dari ratusan diplomat Indonesia yang berkhidmat dalam dunia diplomasi.

Dilahirkan pada tahun 1956 hasil dari perkahwinan pesara Pegawai Transmigrasi yang bersahaja, Rudhito merupakan anak ke enam dari sebelas bersaudara. Rudhito Widagdo, Minister Counsellor, mendirikan rumahtangga dengan seorang gadis Jogja, Dr Dewi WR Widagdo,MHA dan dikurniakan dua anak lelaki, iaitu Erlangga dan Baskara. Erlangga kini sedang melanjutkan pelajaran di Kuala Lumpur, sedangkan adiknya, Baskara kini bersekolah di SMA Labschool di Jakarta.

Baca tulisan lengkapnya disini.

Comments

S.K. Trimurti, Pernah Bekerja di Keluarga Kudonarpodo

Rekan seperjuangannya biasa memanggil perempuan kelahiran Boyolali ini dengan “Zus Tri”. “Zus”, sebutan bagi pejuang perempuan, di samping “bung” bagi kaum laki-laki. Penjara bukanlah tempat yang asing, karena zus Tri telah menghuninya semenjak tahun 1936. Tiga zaman tak pernah dilewatinya tanpa mendekam dalam bui: masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, dan masa revolusi. Beberapa kali bertaruh dengan nyawa, sampai-sampai ia tak lagi takut mati. Zus Tri terlanjur percaya, soal hidup mati Tuhan penentunya. SK Trimurti wafat pada tanggal 20 Mei 2008 di Jakarta, sembilan hari setelah usianya genap 96 tahun, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Baca kisah selengkapnya disini.

Comments

Korban Kecelakaan Bertambah

Ketentuan bahwa manusia wajib berusaha tetapi tetap Tuhan yang menentukan, memang tidak bisa dimungkiri. Minggu (9/11/2003) lalu dua orang lagi warga Yogyakarta yang menjadi korban kecelakaan bus di Ponorogo, Jawa Timur, meninggal dunia.

Kedua korban yang warga kampung Nyutran Jl Tamansiswa Yogyakarta itu, yakni Nyonya Patrisia Sumiarsih (52) dan Petrus Budiono (58), sudah dimakamkan.

Almarhumah meninggal dunia Sabtu (8/11) pukul 13.15. Adapun Petrus Budiono meninggal dunia hari Minggu (9/11) pukul 02.30. Setelah dievakuasi dari tempat kejadian, bersama sejumlah korban lainnya kedua korban ini menjalani perawatan di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Seperti diberitakan, kecelakaan terjadi dalam perjalanan pulang dari ziarah di Goa Maria di kawasan Pulung Binting, Ponorogo, Jawa Timur. Bus PO Semeru AB-9892-A yang membawa rombongan Lingkungan Brayat Minulyo Nazareth Paroki St Santo Yusuf Bintaran, terjun ke jurang. Kejadian itu mengakibatkan 5 orang tewas.

Sumber: Suara Merdeka, 11 November 2003

Comments

Tangsi Prajurit Nyutra dan Basis Syarekat Rakyat

SEBELUM menjadi hunian, wilayah ini berupa hutan bambu dan alang-alang. Banyak ditemui bambu apus, petung dan wulung. Bambu-bambu Nyutran biasa untuk memenuhi kebutuhan keraton ketika itu. Di zaman Sri Sultan HB VII dan VIII, misalnya, kerap dipakai membuat bedeng pada perayaan Garebeg di Alun-alun Utara.
Disebut Nyutran berkait fungsinya sebagai barak Prajurit Nyutra. Pasukan elite ini sudah ada sejak zaman Sri Sultan HB I. Sumbangan dari Madura sebagai tanda persaudaraan Adipati Cakraningrat dengan Sultan Amangkurat Agung. Di Keraton Surakarta disebut Prajurit Panyutra, seperti nama asalnya dari desa Panyutra, Sumenep. Sedang di Yogya dinamai Prajurit Nyutra.

“Di zaman Sri Sultan HB I, jumlahnya belum seberapa. Ditingkatkan menjadi satu bregada pada zaman Sri Sultan HB II. Atau berjumlah sekitar 90 prajurit. Mereka berbaur dengan warga lokal” papar R Soehardji, pengamat budaya warga asli Nyutran. Digolongkan prajurit elite karena gajinya relatif tinggi dibanding prajurit lain. Paling senior bisa mencapai 40 gulden per bulan. Sedang paling rendah sekitar 7,5 gulden, setara prajurit Wirabraja dan Bugis.

Dahulu, di sana bermukim Bupati Djajawinata. Kemudian jadi kapling hunian Prajurit Nyutra. Sebagai bumi gadhuhan hingga tiga generasi. Di zaman Sri Sultan HB VIII, statusnya ditingkatkan jadi hak milik.

Prajurit Nyutra terjun berlaga ketika Inggris (Rafles) menjarah Keraton Yogyakarta. Pada zaman perang Diponegoro juga ikut melawan Belanda. Beberapa regu andalan dipimpin Embah Resi Djaladara, Embah Tjitrapada, Embah Bei Padhasgempal dan Juranggrawah.

R Soehardji berhasil membuat reka-ulang pemukiman Prajurit Nyutra. Ada 90 kapling, masing-masing bernama tokoh pewayangan. Pangkatnya dari Raden Panji (RP), Raden Ngabehi (R Ng), Raden Sersan (RS) hingga Ngabehi (Ng). Nyutran jadi tak beda ‘sekotak wayang’.

Nyutran juga dikenal sebagai markas pergerakan rakyat. “Sekitar 1923 hingga 1926, Nyutran dan kampung sekitarnya, jadi basis Syarekat Rakyat. Darsono salah satu tokoh Syarekat Rakyat di Nyutran,” kata Soehardji. Darsono pernah memimpin penyerangan terhadap Belanda. Tertangkap, lalu dibuang ke Digul selama 14 tahun, kembali ke Jawa 1945.
Nyutran masuk kalurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan. Sebelah utara berbatasan Joyonegara, timur Tuntungan, selatan Mergangsan Kidul, barat dibatasi Jl Tamansiswa.

Sumber: Koran Minggu Pagi No. 40 Th. 55 Minggu I Januari 2003 (16 Januari 2003).

Comments